WUHAN, Kompas.com -
Federasi bulu tangkis dunia (BWF) mengabaikan rencana mendesak para
pemain putri untuk mengenakan rok. Demikian pernyataan beberapa pejabat,
yang menyebutkan bahwa mereka takut akan menimbulkan kontroversi
sepanjang Olimpiade.
Tahun lalu, BWF membuat kegemparan ketika
mereka berusaha mewajibkan pemakaian rok atau baju terusan bagi pemain
putri. Ini merupakan salah satu cara untuk menarik perhatian lebih
banyak penggemar. Tetapi hal itu kemudian ditunda tanpa batas waktu.
Namun
wakil presiden, Paisan Ransikitpho, mengatakan bahwa peraturan mengenai
rok "yang mendapat kritik keras dari China, Indonesia, dan India, serta
partai politik Muslim utama di Malaysia", akhirnya dibatalkan, dua
bulan sebelum Olimpiade London.
"Kami telah memetieskan peraturan
(perihal pemain putri mengenakan rok) itu," ucapnya saat menyaksikan
pertandingan Piala Thomas dan Uber di Wuhan, China, yang berakhir pada
Minggu (27/5/2012).
Namun BWF tetap mendesak kepada para pemain
untuk berupaya tampil sebaik mungkin di depan kamera, agar dapat menarik
lebih banyak penggemar. Mereka juga memberikan tekanan kepada para
pemain putra dan putri, untuk memaksimalkan setiap penampilan.
"Kami
hanya ingin mendorong para pemain putri dan putra untuk berpakaian
dengan benar. Kami ingin mereka berpakaian dengan indah, profesional,"
kata Paisan, saat ia menggarisbawahi strategi terakhir BWF untuk
menaikkan profil olahraga ini.
BWF juga mengharapkan adanya kerja
sama yang bagus antara para pemain dan sponsor-sponsor apparel. Dengan
demikian, semakin banyak penawaran menarik dari produsen pakaian
olahraga, dan semakin banyak pemain yang mengenakannya.
Jan Lin,
yang menjadi petugas media dan komunikasi BWF, mengatakan gerakan untuk
tampil bagus juga dimaksudkan untuk mendapatkan lebih banyak waktu
tayangan di televisi.
Bulu tangkis sangat populer di sebagian
besar wilayah Asia, tetapi masih kalah populer dan sulit bersaing dengan
beberapa olahraga seperti sepak bola atau tenis. Lebih banyak hadiah
uang, bintang-bintang, dan tayangan tv, merupakan bagian dari rencana
untuk menarik lebih banyak penggemar.
Karena itu, muncullah
inisiatif penggunaan rok. Akan tetapi, hal itu mendapat respons negatif
dari beberapa wilayah, seperti di Malaysia, kubu oposisi Partai
Pan-Islam Malaysia (PAS) menyerukan boikot terhadap turnamen-turnamen
bulu tangkis.
Di antara para pebulu tangkis putri di Wuhan,
terdapat berbagai respons mengenai penggunaan celana pendek dan rok -
serta celana pendek di balik rok - di lapangan.
"Ini seharusnya mengenai apa yang kami lakukan, bukan apa yang kami pakai," kata pebulutangkis Denmark, Karina Jorgensen.
Pemain
lain, yang menolak disebutkan identitasnya berkata, "Saya mengenakannya
karena saya menyukainya - dan kekasihku juga memintanya."
Pada
pekan lalu, BWF meluncurkan kaus bergaya atlet sepeda untuk para wasit
dan petugas teknis, yang merupakan upaya lain untuk mendongkrak
popularitas olahraga ini.
Kontroversi penggunaan rok pada bulu
tangkis menggaungkan debat serupa di olahraga tinju putri, yang akan
melakukan debutnya sebagai event penuh Olimpiade di London.
http://olahraga.kompas.com/
jual shuttlecock